SELAMAT DATANG DI BLOG PENDIDIKAN MEDIA BERBAGI ASIK BERBAGI UNTUK SEMUA DI KECAMATAN BANDAR PETALANGAN KABUPATEN PELALAWAN PROVINSI RIAU

Kuliah Umum PembaTIK Level 4 Tahun 2022

Kuliah Umum PembaTIK Level 4 Tahun 2022 mengangkat Tema Berkolaborasi dan Bertransformasi Menumbuhkan Ekosistem Digital Menuju Merdeka Belajar. Melalui Pembelajaran Berbasis TIK ini diharapkan para pendidik mampu mengembangkan potensi dan mengimplementasikannya.

Dukungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pelalawan

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pelalawan H. Abu Bakar FE, S.Sos., M.Ap memberikan dukungan penuh terhadap Program Pembelajaran Berbasis TIK (PembaTIK) yang diluncurkan oleh Pusat data dan Informasi (Pusdatin).

.

Sosialisasi Praktik Baik Pemanfaatan Rumah Belajar di SD Negeri 002 Lubuk Keranji

Dukungan dan antusias para guru dalam mengikuti sosialisasi praktik baik pembelajaran SOLE terintegrasi kearifan lokal pariwisata Ombak Bono dengan memanfaatkan fitur Sumber Belajar pada Portal Rumah Belajar.

Webinar KOLAK JAMBU (Kolaborasi Kalimantan Jambi dan Riau)

Kolaborasi Sahabat Rumah Belajar Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi dan Riau dalam Berbagi Praktik Baik Pembelajaran Berbasis TIK Terintegrasi Platform Rumah Belajar dan Platform Merdeka Mengajar

Tugas Akhir Vlog PembaTIK Level 4 Tahun 2022

Pembelajaran Kooperatif Melalui Pemanfaatan Sumber Belajar pada Portal Rumah Belajar Materi Koordinat Kartesius Tingkat Sekolah Dasar Terintegrasi Kearifan Lokal Pariwisata Provinsi Riau

Rabu, 21 Juni 2023

Koneksi Antar Materi Modul 3.3

 Koneksi Antar materi Modul 3.3
"Pengelolaan Program Yang Berdampak Positifs Terhadap Murid"



Dari modul pembelajaran 3 pelatihan guru penggerak, penulis mencatat beberapa hal yang menarik, seperti pergeseran paradigma dalam pengambilan keputusan dari yang selama ini dilakukan dengan pendekatan berbasis masalah (berbasis defisit) menjadi pendekatan berbasis aset sekarang. aku telah belajar Sebelum saya mengikuti pelatihan guru penggerak, sudah menjadi kebiasaan kami untuk selalu mengutamakan hasil evaluasi saat mengambil keputusan, dan masalah utama dalam evaluasi adalah kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, pendekatan berbasis masalah digunakan untuk menentukan tindakan di masa depan. Namun, setelah mempelajari Modul 3 ini, masalahnya tidak lagi menjadi fokus pengambilan keputusan. Karena setiap masalah memiliki sisi positif. Karena di balik masalah itu ada kelebihan yang bisa dimanfaatkan sebagai aset. Dan Anda harus bisa melihat hal-hal secara positif. Dan ketika Anda mempraktikkannya, karena kami selalu berpikir positif tentang minat kami, kekuatan yang diperlukan untuk merancang keputusan dan program yang berdampak positif bagi siswa kami sangatlah sederhana.

Kalangan pendidikan perlu optimis terhadap pengelolaan sumber daya dan aset sebagai kekuatan/potensi sekolah. Masalah dan kekurangan sekolah tidak lagi menjadi penghambat kemajuan pendidikan dan perwujudan visi, misi, dan tujuan sekolah ramah siswa. Namun titik fokus permasalahannya adalah kebiasaan yang sudah mapan, yang tidak mudah diubah, sehingga membutuhkan pemahaman yang matang tentang proses pembelajaran, kerjasama dan civitas akademika sekolah. Perubahan positif dapat dengan mudah dicapai jika sikap positif tertanam dalam diri sivitas akademika sekolah. Dan program yang berdampak positif bagi siswa mudah diterapkan.

Dan ketika memutuskan semua hal yang berpihak pada siswa, kita harus menerapkan prinsip pengambilan keputusan dan mengadopsi sembilan langkah ujian. Semoga keputusan bijak dibuat demi siswa. Selain itu, ketika merancang program sekolah yang berdampak pada siswa secara dewasa, model BAGJA dari pertanyaan syukur (mengajukan pertanyaan kunci, mengambil pelajaran, menjelajahi mimpi, menjelaskan rencana, mengelola pelaksanaan) penting. ) untuk menerapkan manajemen perubahan, dan manajemen risiko dan keberlanjutan program memerlukan penerapan MELR (monitoring, evaluasi, pembelajaran dan pelaporan). Dengan demikian, program ini diharapkan dapat berjalan secara efektif dan efisien.

Pemetaan aset dan sumber daya di sekolah (baik sumber data fisik maupun non fisik) juga penting untuk merampingkan pelaksanaan program yang berdampak pada siswa. Setelah pemetaan selesai, langkah selanjutnya adalah mengaktifkan pembelajaran mandiri dan memanfaatkan potensi sekolah sejalan dengan tujuan menciptakan profil siswa Pancasila dan budaya positif di sekolah.

Modul 3.3 adalah modul terakhir dari rangkaian modul untuk melatih instruktur operasional di masa mendatang. Modul 3.3 mengundang Anda untuk meninjau kembali kegiatan dan rutinitas sehari-hari yang Anda lakukan untuk memenuhi tanggung jawab dan peran Anda sebagai seorang guru.

Modul 1.1 membahas filosofi Ki Hajar Dewantara bahwa guru memiliki peran strategis dalam menyalurkan segala fitrah pada anak agar mereka bahagia dan tenteram sebagai individu maupun sebagai masyarakat. Dalam mengelola program sekolah yang berdampak pada siswa, siswa harus dilibatkan dan perhatian harus diberikan untuk mengembangkan potensi atau karakter siswa. Modul ini juga berbicara tentang fakta bahwa siswa adalah individu yang unik dan utuh, sehingga guru harus dapat membimbing siswa sesuai dengan kodratnya. Memahami sifat siswa memudahkan kita merancang program yang berdampak positif bagi siswa.

Modul 1.2 membahas tentang nilai dan peran instruktur mengemudi. Nilai-nilai instruktur mengemudi adalah mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan mendukung siswa. Nilai dan peran seorang penyuluh tak lepas dari cita-cita luhur mewujudkan profil siswa pancasila dan belajar mandiri. Dalam perannya, guru tidak cukup hanya membimbing pembelajaran di kelas, tetapi juga memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin dalam mengelola program sekolah yang memajukan siswa.

Modul 1.3, Merencanakan dan mengelola program yang mempengaruhi siswa, diterapkan dengan inkuiri terakreditasi BAGJA (Ajukan pertanyaan kunci, Ambil pelajaran, Belajar dari mimpi, Gambarkan rencana, Atur implementasi) dengan terlebih dahulu memetakan aset atau sumber daya sekolah dan mengembangkan aset atau potensi yang dimiliki . dapat dikembangkan untuk merancang program sekolah yang mempengaruhi siswa. Survei BAGJA rewards memungkinkan kami dengan mudah merancang program yang berdampak positif bagi siswa karena kami melibatkan semua pihak dan melihat semua aset yang tersedia.

Modul 1.4 membahas tentang budaya positif berupa lingkungan yang mendukung pengembangan potensi, minat, dan profil belajar siswa, terutama kekuatan alamiah anak. Sebagai petani, guru harus mampu mengoptimalkan sumber daya lingkungan yang positif dan mengembangkan budaya yang positif agar anak dapat tumbuh sesuai dengan sifat dan karakter zaman serta program pendukung yang mempengaruhi siswa. Dan dengan pembiasaan budaya yang positif, maka terciptalah profil mahasiswa pancasila.

Modul 2.1 dari modul ini berkaitan dengan pembelajaran yang dibedakan. seorang guru dapat menggunakan pembelajaran berdiferensiasi untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada siswa. Pembelajaran yang berdiferensiasi ini merupakan solusi dari perbedaan karakteristik dan kecerdasan siswa. Sebelum merencanakan pembelajaran yang berdiferensiasi, guru harus memetakan kebutuhan belajar, minat, dan profil belajar siswa. Tujuannya adalah untuk mengetahui kelebihan atau kelebihan siswa. Dengan menerapkan pembelajaran yang berbeda, kami memberikan siswa ruang kenyamanan dan kebahagiaan saat belajar, yang membuat guru nyaman dan senang saat mengajar. Beginilah cara belajar mandiri lahir.

Modul 2.2 Dalam modul ini guru dilatih dan disempurnakan agar mampu mengembangkan kompetensi sosial dan emosional siswa. Dengan Aplikasi Pembelajaran KSE, kami mengembalikan kesadaran diri penuh pada siswa sehingga mereka tenang, fokus, berempati, termotivasi dan bertanggung jawab. Teknik mindfulness merupakan strategi untuk mengembangkan lima keterampilan sosial-emosional berdasarkan program dukungan siswa yang menciptakan pembelajaran mandiri dan budaya positif di sekolah.

Modul 2.3 membahas praktik bimbingan, yaitu teknik atau strategi guru untuk membimbing anak dan menggali potensinya. Pembinaan juga memberikan kebebasan kepada anak untuk mengembangkan dan mengeksplorasi proses berpikir. Ketika mengelola program yang mempengaruhi siswa, pembinaan dapat digunakan sebagai strategi untuk mengembangkan sumber daya siswa, mengembangkan kepemimpinan siswa, menggali peluang bagi siswa untuk mencapai tujuan pendidikan, yaitu. keamanan dan kebahagiaan anak setinggi mungkin.

Modul 3.1 berkaitan dengan pengambilan keputusan berbasis nilai sebagai seorang manajer. Sebagai seorang guru, seorang guru harus mampu mengambil keputusan yang bijak, yaitu keputusan yang bermanfaat bagi siswa. Basis keputusan, prinsip dan paradigma atau nilai harus konsisten, terutama ketika berhadapan dengan dilema etika atau persuasi moral. Dan dalam pengambilan keputusan harus memperhatikan paradigma, prinsip dan 9 langkah pengujian, agar keputusan yang kita ambil tepat, cepat dan sesuai dengan kepentingan siswa.

Modul 3.2 membahas pengelolaan sumber daya, bahwa guru sebagai pemimpin pembelajaran atau pengelola program sekolah harus mampu memetakan dan mengidentifikasi aset sekolah, baik fisik maupun non fisik. Pendekatan berbasis aset dapat lebih mengoptimalkan potensi sekolah sebagai komunitas belajar dibandingkan dengan pendekatan berbasis masalah. Sisi positif sekolah harus dilihat dari paradigma berpikirnya. Dengan memfokuskan aktivitas Anda, Anda dapat merencanakan dengan baik untuk mengelola program yang berdampak pada siswa.

Modul 3.3 berkaitan dengan manajemen program yang mempengaruhi siswa. Dengan memahami dan menerapkan semua modul pelatihan mobilisasi guru, maka terciptalah program sekolah yang berdampak positif bagi siswa.

Demikian koneksi antar materi pada modul 3.3 untuk dapat dijadikan referensi bagi para pembaca dan mohon masukan serta kritikan untuk kemajuan penulisan ini terimakasih.





Sabtu, 06 Mei 2023

Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan



Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

Pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap memiliki pengaruh terhadap bagaimana pengambilan sebuah keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran yang diambil.

Pratap Triloka dirintis oleh Ki Hajar Dewantara yang terkenal dengan semboyan ing ngarso sungtuladha, ing madya mangun prakarsa, Tut wuri Handyaani artinya memimpin dengan keteladanan,

Senin, 20 Februari 2023

Koneksi Antra materi Modul 2.1

 


Pembelajaran Berdiferensiasi

Definisi Pembelajaran Berdiferensiasi

Menurut Tomlinson (2001: 45), Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar murid. Guru memfasilitasi murid sesuai dengan kebutuhannya, karena setiap murid mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa diberi perlakuan yang sama.

Pada dasarnya, pembelajaran berdiferensiasi memungkinkan setiap guru untuk bertemu dan berinteraksi dengan siswa pada tingkat yang sebanding dengan tingkat pengetahuan mereka untuk kemudian menyiapkan preferensi belajar mereka.

Untuk dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, hal yang harus dilakukan oleh guru antara lain: Melakukan pemetaan kebutuhan belajar berdasarkan tiga aspek, yaitu: kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar murid (bisa dilakukan melalui wawancara, observasi, atau survey menggunakan angket, dll).

Strategi Pembelajaran berdiferensiasi ada 3 yaitu: diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk.

1. Direfensiasi konten

  Konten adalah apa yang kita ajarkan kepada murid. Konten dapat dibedakan sebagai tanggapan terhadapa kesiapan, minat, dan profil belajar murid maupun kombinasi dari ketiganya.

Guru perlu menyediakan bahan dan alat sesuai dengan kebutuhan belajar murid.


2. Diferensiasi proses

  Proses mengacu pada bagaimana murid akan memahami atau memaknai apa yang dipelajari.

Diferensiasi proses dapat dilakukan dengan cara:

a.  menggunakan kegiatan berjenjang

b.  meyediakan pertanyaan pemandu atau tantangan yang perlu diselesaikan di sudut-sudut minat,

c.  membuat agenda individual untuk murid (daftar tugas, memvariasikan lama waktu yang murid dapat ambil untuk menyelesaikan tugas,

d.  mengembangkan kegiatan bervariasi 


3.  Diferensiasi produk

Produk adalah hasil pekerjaan atau unjuk kerja yang harus ditunjukkan murid kepada kita (karangan, pidato, rekaman, doagram) atau sesuatu yang ada wujudnya.

Produk yang diberikan meliputi 2 hal:

a.  memberikan tantangan dan keragaman atau variasi,

b. memberikan murid pilihan bagaimana mereka dapat mengekspresikan pembelajaran yang diinginkan.


Indikator keberhasilan suatu pembelajaran berdiferensiasi adalah siswa merasa nyaman dalam belajar, adanya peningkatan keterampilan baik segi hard skill atau softskill, dan adanya kesuksesan belajar dari seorang murid yaitu murid mampu merefleksikan diri kemampuannya dimulai dari titik awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran.

Ciri-ciri atau karakteristik pembelajaran berdiferensiasi antara lain; lingkungan belajar mengundang murid untuk belajar, kurikulum memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, terdapat penilaian berkelanjutan, guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar murid, dan manajemen kelas efektif.

Contoh kelas yang menerapkan pembelajaran berdiferensiasi adalah ketika proses pembelajaran guru menggunakan beragam cara agar murid dapat mengeksploitasi isi kurikulum, guru juga memberikan beragam kegiatan yang masuk akal sehingga murid dapat mengerti dan memiliki informasi atau ide, serta guru memberikan beragam pilihan di mana murid dapat mendemonstrasikan apa yang mereka pelajari. Contoh kelas yang belum menerapkan pembelajaran berdiferensiasi adalah guru lebih memaksakan kehendaknya sendiri. Guru tidak memahami minat, dan keinginan murid. Kebutuhan belajar murid tidak semuanya terenuhi karena ketika proses pembelajaran menggunakan satu cara yang menurut guru sudah baik, guru tidak memberikan beragam kegiatan dan beragam pilihan.


Berikut contoh RPP Berdiferensiasi pada kelas 4 SD Negeri 002 Lubuk Keranji Kecamatan Bandar Petalangan Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau.


Pembelajaran Berdiferensiasi ini merupakan salah satu dari filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara bahwa setiap murid memiliki keunikan masing-masing dan guru dituntut untuk mampu menuntun dan memberikan apa yang menjadi kebutuhan setiap murid untuk dapat mencapai atau mencari jati diri sehingga mampu menjadi manusia seutuhnya berdasarkan kodrat alam dan kodrat zaman.

Demikian yang dapat saya sampaikan mohon kritik dan saran untuk tugas kedepan lebih baik lagi. Terimakasih. 

Salam dan Bahagia.

Anang Sutrisno

Sabtu, 29 Oktober 2022

Tugas PembaTIK Level 4 Tahun 2022 Praktik Baik Pembelajaran dengan Pemanfaatan Portal Rumah Belajar


Pembelajaran Kooperatif Melalui Pemanfaatan Sumber Belajar di Portal Rumah Belajar Pada Materi Koordinat Kartesius Terintegrasi Kearifan Lokal Pariwisata Riau



Pada dasarnya belajar merupakan proses perubahan yang terjadi pada seseorang baik perubahan perilaku dengan bertambahnya pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Hal ini diperoleh dengan cara melalui proses yang berkesinambungan dan tidak secara instan didapatkan bahkan melalui latihan-latihan sehingga memberikan pengalaman yang berarti dalam kehidupan.

Menurut seorang ahli psikologi pendidikan David Ausuberl (1963) menyatakan bahwa pembelajaran yang dipelajari harus "bermakna" (meaningfull). Menurutnya belajar bermakna merupakan proses mengaitkan informasi atau materi baru dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitif. Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa. 

Dalam Permendikbud No. 81A tentang Implementasi Kurikulum 2013 dimana dalam dokumen tersebut dijelaskan bahwa pembelajaran berpusat pada siswa atau sering dikenal dengan istilah student center learning pada prinsipnya lebih menekankan pada keaktifan peserta didik untuk dikembangkan menjadi sebuah pemahaman yang bermakna bagi dirinya. Selama ini kita ketahui bersama bahwa guru lebih aktif dibanding peserta didik sehingga anak hanya menjadi penonton dan bukan sebagai pelaku utama hal ini yang selalu menjadi permasalahan dalam pendidikan. Untuk itu seiring dengan perkembangan pendidikan kita mengubah pola lama yang dulunya berpusat pada guru maka saat ini pembelajaran harus berpusat pada siswa.

Pembelajaran yang baik merupakan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan mampu memberikan makna dalam setiap kegiatan pembelajaran. Pembelajaran bermakna hendaknya senantiasa kita hubungkan dengan kehidupan nyata dimana peserta didik mampu merasakan dan menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi dirinya sendiri sehingga setiap siswa benar-benar memahami dan mendalami secara kontekstual dan relevan dengan kehidupannya. 

Berawal dari konsep pembelajaran bermakna dan berpusat kepada peserta didik penulis mencoba memberikan praktik baik pembelajaran dengan judul "Pembelajaran Kooperatif Melalui Pemanfaatan Sumber Belajar di Portal Rumah Belajar Pada Materi Koordinat Kartesius Sekolah Dasar Terintegrasi Kearifan Lokal Provinsi Riau". Praktik Baik ini dilakukan pada Kelas 6 Sekolah Dasar Negeri 002 Lubuk Keranji Kecamatan Bandar Petalangan Kabupaten Pelalawan pada tanggal 17 Oktober 2022 secara ringkas dapat dilihat pada tayangan video berikut ini:
Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana praktik baik pembelajaran yang dilakukan dalam kelas, mari kita perhatikan langkah-langkah dalam aksi nyata pemanfaatan portal Rumah Belajar dalam pembelajaran.

A.      Pembelajaran Kooperatif

1. Pengertian 

Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning merupakan strategi pembelajaran yang dilakukan membentuk kelompok belajar dengan tujuan saling berkolaborasi, komunikasi dan motivasi antara anggota yang satu dengan yang lain sehingga mampu mencapai pemahaman materi secara merata.

2. Karakteristik 

Karakteristik model pembelajaran kooperatif antara lain: siswa melakukan pembelajaran secara berkelompok; siswa memiliki rasa kebersamaan dan ketergantungan satu sama lain; siswa berinteraksi dalam bekerjasama pemecahan masalah; siswa dilatih untuk bertanggungjawab terhadap tugas yang diberikan.

3. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif

Dalam pembelajaran kooperatif diawali dengan menyiapkan siswa, memberikan apersepsi, motivasi, menyampaikan tujuan pembelajaran dan mengkomunikasikan kompetensi yang harus dicapai. Langkah selanjutnya guru memberikan informasi terkait materi pembelajaran dengan mengaitkan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya guru membentuk kelompok kecil dalam kelas untuk memecahkan permasalahan. Langkah berikutnya guru melakukan bimbingan terhadap kelompok-kelompok tersebut dalam memaksimalkan pembelajaran. Berikutnya guru melakukan evaluasi terhadap hasil belajar yang telah diperoleh peserta didik. Langkah selanjutnya guru memberikan reward atau hadiah terhadap siswa.

B.      Pembelajaran Matematika Materi Koordinat Kartesius
Pembelajaran Matematika pada materi koordinat kartesius kelas 6 sekolah dasar merupakan praktik baik yang dilakukan penulis dengan kompetensi dasar pengetahuan yakni membaca titik koordinat kartesius dan menentukan titik pada koordinat kartesius. sedangkan kompetensi keterampilan mampu menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan menentukan titik koordinat kartesius dalam kehidupan sehari-hari.

C.      Pemanfaatan Fitur Sumber Belajar Pada Portal Rumah Belajar
Dalam praktik baik yang dilakukan penulis dengan memanfaatkan salah satu fitur utama portal Rumah Belajar yakni fitur Sumber Belajar dan mengaitkan dengan capaian kompetensi peserta didik terhadap materi koordinat kartesius.

1. Posisi Titik Dalam Bidang Koordinat Kartesius 

https://sumberbelajar.belajar.kemdikbud.go.id/sumberbelajar/tampil/Posisi-Titik-Dalam-Bidang-Koordinat-Cartesius-2015/konten3.html 

2. Menentukan Letak Benda Pada Bidang Kartesius

https://sumberbelajar.belajar.kemdikbud.go.id/sumberbelajar/tampil/Koordinat-Cartesius-2014-/konten4.html 

D.      Integrasi Kearifan Lokal Provinsi Riau Pada Pembelajaran
Salah satu permasalahan kontekstual dalam kehidupan sehari-hari siswa yang dapat diatasi setelah mempelajari materi pembelajaran yang berkaitan dengan bidang koordinat kartesius adalah penggunaan peta. Dalam hal mengintegrasikan kearifan lokal, penulis membuat peta wisata Riau untuk objek dalam tutorial ini sehingga mampu memberikan kenyamanan terhadap siswa dalam belajar dan mampu menumbuhkan  keakraban dengan berdiskusi kelompok terhadap hal-hal di sekitar mereka.

Setelah mengetahui komponen dalam pembelajaran kooperatif selanjutnya kita simak bagaimana pelaksanaan praktik baik pembelajaran kooperatif dimulai dari tahapan perencanaan, tahapan pelaksanaan dan tahapan pasca pelaksanaan.

A.      Tahapan Perencanaan
Sebagai kegiatan pembelajaran pada umumnya, guru terlebih dahulu harus merencanakan penyusunan perangkat pembelajaran sesuai dengan komponen yang telah dipelajari dan dianggap cocok untuk praktik pembelajaran ini. kita dapat memodifikasi alat pembelajaran yang ada untuk menggabungkan semua yang akan kita terapkan dalam pelajaran sehingga menjadi rencana implementasi pembelajaran yang hebat.

Langkah berikutnya menyesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Pada tahap ini, tujuan diselaraskan dengan persyaratan hasil utama (kompetensi dasar dan indikator) yang harus dikuasai siswa. Langkah selanjutnya adalah menentukan kearifan lokal yang ada di sekitar siswa, dalam hal ini kearifan lokal Riau, yang sesuai dengan materi kajian yang dipilih sebagai subjek kajian. Kegiatan selanjutnya pada fase ini adalah menempatkan Portal Rumah Belajar sebagai bagian dari pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan digital siswa dan membimbing pembelajaran ini sebagai Pembelajaran Berbasis ICT (Information and Communication Technology).

Kamis, 27 Oktober 2022

Webinar KOLAKJAMBU

Sosialisasi webinar kolakjambu diselenggarakan atas kerjasama IGI Kabupaten Muaro Jambi bersama para Sahabat Rumah Belajar lintas Provinsi yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi dan Riau.

Selasa, 25 Oktober 2022

Sosialisasi Praktik Baik Pembelajaran SOLE terintegrasi Portal Rumah Belajar

Sosialisasi Praktik Baik Pembelajaran SOLE Terintegrasi Kearifan Lokal Pariwisata Ombak Bono Dengan Memanfaatkan Sumber Belajar pada Portal Rumah Belajar


Deskripsi dan Langkah-Langkah Model Pembelajaran SOLE 
(Self Orginized Learning Environment )


A. Deskriptif

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat hampir semua aktivitas manusia bergantung pada peralatan teknologi. Keberadaan dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi diharapkan dapat membuat aktivitas pendidik khususnya kegiatan belajar menjadi lebih nyaman. Era Industri 4.0 memiliki dampak yang sangat besar. Siapa pun dapat berkomunikasi dan berkolaborasi, terlepas dari jarak. Dengan perkembangan Internet, perangkat pintar (komputer dan ponsel pintar), lebih dekat ke dunia yang dulunya jauh. Kemudahan akses dan informasi merupakan faktor yang memberikan keuntungan dalam proses pembelajaran. Setiap orang dilahirkan dengan rasa ingin tahu.


Keberadaan dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memberikan kemudahan dalam mengakses informasi. Kedua proses ini disatukan dan dioptimalkan oleh model pembelajaran SOLE (Self Organized Learning Environments). Model pembelajaran Self Organized Learning Environments (SOLE) berfokus pada proses belajar mandiri dari orang-orang yang ingin belajar menggunakan Internet dan perangkat pintar. Dalam konteks pembelajaran di sekolah, guru menggunakan model pembelajaran SOLE untuk menggali kedalaman pemahaman siswa terhadap materi dengan memanfaatkan rasa ingin tahunya.

B. Kompetensi Yang Diharapkan

Tujuan model pembelajaran SOLE adalah untuk membentuk kompetensi (keterampilan) siswa. Kompetensi yang diharapkan dapat dikembangkan pada siswa melalui Model Pembelajaran SOLE ini antara lain:
  1. Berfikir kreatif (Creative Thinking) Model pembelajaran SOLE merangsang setiap peserta didik untuk melatih rasa ingin tahu yang dimilikinya dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan. Berbekal rasa ingin tahu dan menggunakan fasilitas internet, peserta didik mencari alternatif jawaban terhadap pertanyaan yang diberikan.
  2. Kemampuan Pemecahan Masalah Setiap pertanyaan membutuhkan jawaban. Bagaimana menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk menemukan jawaban dan menggunakannya untuk menginspirasi siswa untuk memecahkan masalah.Selain itu, pertanyaan yang diajukan memberi siswa wawasan dan pertanyaan baru. Tentu saja, pertanyaan yang baru muncul kembali membutuhkan jawaban. Proses rotasi ini diharapkan dapat mengembangkan keterampilan pemecahan masalah siswa.
  3. Kemampuan berkomunikasi (Communicate capability) Setiap jawaban yang didapat tentunya perlu didistribusikan ke peserta didik yang lain. Setiap peserta didik diberikan kesempatan menyampaikan jawaban yang di dapat berdasarkan pemahamannya sendiri. Dengan melatih tata cara penyampaian jawaban tadi diharapkan akan memunculkan dan melatih kemampuan berkomunikasi pada diri peserta didik. 
C.      Langkah-langkah kegiatan model pembelajaran SOLE 
Model pembelajaran SOLE terdiri dari tiga fase kegiatan yang harus diselesaikan oleh setiap siswa. Tugas guru hanya memberikan saran berupa pertanyaan tentang materi yang akan dibahas. Kegiatan selanjutnya tergantung pada kreativitas siswa dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Lebih tepatnya, tiga fase kegiatan yang dilakukan adalah:

1.       Pertanyaan (Question)
Memberikan pertanyaan yang bisa menyebabkan rasa ingin memahami siswa terhadap materi yang diajarkan, pertanyaan tadi dibutuhkan juga bisa menurunkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendekati terhadap materi yang diajarkan.

2.       Investigasi (Investigate)
Peserta didik menciptakan grup-grup kecil. Peserta didik pada grup berkolaborasi satu menggunakan yang lainnya & memakai satu perangkat internet buat mencari jawaban terhadap pertanyaan yang diberikan sebelumnya.

3.       Mengulas (Review)
Masing-masing grup mempresentasikan output inovasi mereka terhadap pertanyaan yang diberikan.

Secara lebih terperinci, tahapan pelaksanaan model pembelajaran SOLE adalah sebagai berikut:
Langkah 1: Memberikan pertanyaan terkait materi yang akan dipelajari; 
Langkah 2: Mengorganisasi siswa; 
Langkah 3: Ekplorasi dan investigasi siswa; 
Langkah 4: Monitoring; 
Langkah 5: Presentasi hasil eksplorasi dan inverstigasi; 
Langkah 6: Evaluasi hasil presentasi













Senin, 24 Oktober 2022

Temu Ramah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pelalawan

 
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pelalawan Bapak H. Abu Bakar FE, S.Sos., M.Ap ditemui di kantornya pada hari Senin, 24 Oktober 2022. Adapun tujuan dalam pertemuan ini yakni meminta

Koneksi Antar Materi Modul 3.3

 Koneksi Antar materi Modul 3.3 "Pengelolaan Program Yang Berdampak Positifs Terhadap Murid" Dari modul pembelajaran 3 pelatihan g...