SELAMAT DATANG DI BLOG PENDIDIKAN MEDIA BERBAGI ASIK BERBAGI UNTUK SEMUA DI KECAMATAN BANDAR PETALANGAN KABUPATEN PELALAWAN PROVINSI RIAU

Sabtu, 06 Mei 2023

Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan



Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

Pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap memiliki pengaruh terhadap bagaimana pengambilan sebuah keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran yang diambil.

Pratap Triloka dirintis oleh Ki Hajar Dewantara yang terkenal dengan semboyan ing ngarso sungtuladha, ing madya mangun prakarsa, Tut wuri Handyaani artinya memimpin dengan keteladanan, memberi motivasi/dorongan di tengah, mendukung di belakang. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka guru sebagai pemimpin harus mampu mengembangkan menjadi teladan dalam pelaksanaan pembelajaran, sehingga menjadi pengawas bagi siswa dan dapat mengelola kemungkinan masalah serta mengambil keputusan dalam pelaksanaan pembelajaran. proses pembelajaran. pengambilan keputusan yang berorientasi pada siswa. coba terapkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 tahapan pengambilan keputusan saat akan mengambil suatu keputusan. Saya harap kita bisa menghasilkan solusi yang mana solusi tersebut berpihak kepada kebaikan dan memperhatikan prinsip memanusiakan manusia.

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh terhadap prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan keputusan.

Dalam proses “menuntun” dimana siswa diberikan kebebasan memilih, namun guru sebagai pendidik tetap memberikan bimbingan dan arahan agar siswa tidak tersesat dan kehilangan fokus. Guru dapat memberikan petunjuk kepada siswa untuk menemukan
gairah
yang mempengaruhi pengambilan keputusan yang benar dan bertanggung jawab. Seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran pasti pernah mengalami dilema etika atau persuasi moral ketika berhadapan dengan kasus siswa atau rekan di sekolah, mengenai nilai apa yang benar dan benar (situasi yang muncul ketika seseorang harus memilih antara. dua opsi di mana kedua opsi itu secara moral benar tetapi bertentangan). , benar vs. salah (seseorang membuat keputusan antara benar dan salah)


Kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengankegiatan coaching (bimbingan) yang diberikan pendamping dalam proses pembelajaran kita,terutama dalam pengujian pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini bisa dibantu oleh sesicoaching yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Mengenai pembelajaran di kelas, guru sebagai pembawa perubahan harus mampu mengetahui kebutuhan belajar siswa dan menjadi contoh yang baik untuk memahami hakikat pembelajaran dan kondisi sosial emosional siswa sebagai pembelajaran. wali kelas. Dalam hal ini, untuk menciptakan profil siswa yang pancasila, siswa juga harus mampu memecahkan sendiri masalah belajarnya di kelas yang menjadi dilema bagi mereka, dan disinilah pendekatan latihan menjadi penting, dimana guru sebagai pembina memberikan pertanyaan-pertanyaan pemicu yang siswa menjawab untuk memecahkan setiap masalah sendiri, terutama yang menjadi dilemanya. Seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran selalu siap meluangkan waktu ketika siswa membutuhkannya atau ketika melihat perubahan pembelajaran yang menurun pada siswa. Pembinaan tidak lepas dari komunikasi yang baik antara pembina dengan yang dibina, namun pembinaan diharapkan dapat mengatasi permasalahan belajar siswa.


Bagaimana pembahasan studi kasus yang focus pada masalah moral atau etika kembali nilai-nilaiyang dianut oleh seorang pendidik

Pendidik harus dapat melihat bagaimana permasalahannya, apakah dilema etika atau persuasi moral, nilai-nilai yang diambil adalah nilai-nilai yang merupakan proses tindakan yang menjadi titik temu sebagai pemimpin pembelajaran yang konstan. Berbagai cara dalam membimbing para siswa ini ke keputusan yang lebih baik Keputusan yang dibuat adalah keputusan yang bertanggung jawab.


Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Mengambil keputusan yang tepat sebagai pemimpin pembelajaran pasti terasa positif, aman dan nyaman ketika kita melihat keadaan di mana kita membuat keputusan akhir. Jika dilema, kita bisa meminimalkannya sehingga dilema itu tidak terlalu efektif. Dan jika itu tentang persuasi moral, maka kita harus tahu bahwa apa yang dilakukan itu salah dan kemudian guru sebagai guru membuat keputusan yang bijak tetapi membimbing siswa untuk membuat keputusan yang tepat baik untuk guru maupun siswa meskipun itu sulit. . Dalam hal ini siswa masih merasa bahwa guru adalah seorang pemimpin yang dapat menciptakan situasi yang kondusif, aman dan nyaman di dalam dan sekitar lingkungan sekolah.

Apakah kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilankeputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali kemasalah perubahanparadigma di lingkungan Anda?

Sebagai makluk sosial dan sebagai pemimpin pembelajaran dalam pengambilan suatu keputusan tidakakan luput dari dilema etika dan bujukan moral. Dilema etika merupakan situasional, yaitu antarabenar-benar memegang aturan demi suatu keadialan. Namun terkadang kita susah membedakanmana yang merupakan dilema etika dan bujukan moral, misalnya saja kasus berbohong yang sudahpasti merupakan tindakan salah , meskipun tujuannya baik tetap saja merupakan kesalahan. Adapunhal yang perlu diperhatikan sebelum mengambil sebuah keputusan dalam dilema etika, 4 paradigma, yakni:
  1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)
  2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
  3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
  4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
Tiga prinsip yang bisa di gunakan untuk mengambil keputusan yaitu:
  1. Berpikir berbasis hasil akhir (ends-based Thingking)
  2. Berpikir berbasis peraturan (rule base thingking)
  3. Berpikir berbasis rasa peduli (care base thingking)
Sedangkan untuk cara menguji keputusan kita bisa di gunakan 9 tahapan secara berurutan1.
  1. Mengenali ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.
  2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.
  3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dalam situasi ini.
  4. Pengujian benar atau salah (Uji legal, Uji Regulasi/Standar Profesiaonal, Uji intuisi, Uji halaman Depan Koran, Uji Panutan/Idola )
  5. Pengujian paradigma benar atau salah
  6. Prinsip pengambilan keputusan
  7. Investigasi Opsi Trilema
  8. Buat keputusan.
  9. Tinjau lagi keputusan Anda dan refleksikan
Pengaruh pengambilan keputusan dengan pembelajaran yang memerdekakan murid kita?

Sebagai seorang guru yang  bertemu dengan siswa dengan kepribadian yang berbeda dan rekan kerja dengan  masalah yang berbeda setiap hari, saya merasa penjelasan materi di modul 3.1 membantu, karena dulu kami sering menemui masalah, namun dengan pendampingan dan bimbingan, kami selalu menyelesaikan masalah sekarang. Setelah belajar Coaching. kami lebih mampu mengembangkan cara berpikir kami sendiri dan membuat keputusan yang berpihak pada siswa, bahkan jika rekan kerja kami terkadang tidak berpikiran sama. Dengan semua materi yang dipelajari dalam modul instruktur mengemudi, kita harus dapat membuat keputusan positif yang  membuat siswa merasa nyaman dan betah. Kita berharap dapat mencetak siswa yang berkarakter profil siswa pancasila, namun tetap dengan keterampilan yang lebih tinggi.

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Dengan memberi nilai-nilai positif, menciptakan rasa nyaman pada siswa merupakan motivasi seorangpendidik dalam mengambil keputusan. Seorang pendidik dengan berbagai cara pasti akanmemberikan yang terbaik untuk siswanya oleh karena itu keputusan yang baik pula untukperkembangan siswanya.kesimpulan akhir yang dapat ditarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitan denganmodul-modul sebelumnya.


Kesimpulan akhir terkait modul 3.1

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran dengan modul-modul yang telah dipelajari sebelumnya merupakan suatu tidak terpisahkan untuk mencapai kemerdekaan dalam belajar pada murid, Ki Hajar Dewantara dalam menuntut segala proses dan kodrat/potensi anak untuk mencapai sebuah keselamatan dan kebahagiaan belajar, baik untuk dirinya sendiri, sekolah maupun masyarakat. Selain itu juga dimana proses pembelajaran seorang pendidik harus bisa melihat kebutuhan belajar pada anak serta mengelolah kompetensi sosial emosional dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Pendekatan Coaching juga merupakan salah satu cara kita (coach) untuk membantu choachee dalam mencari solusi/ mengembangkan bakat yang terpendam sehingga akan muncul sebuah keputusan yang bertanggung jawab dari choachee. Dan dengan belajar mengambil keputusan menggunakan tiga prinsip yang di ajarkan pemikiran kita lebih terbuka agar bisa mengambil keputusan yang berpihak pada murid atau jika itu dilema etika yang berkaitan dengan rekan sejawat kita bisa menemukan solusi yang tepat meskipun kadang menyakitkan hati. Tetapi demi profesionalitas dalam pendidikan bujukan moral harus segera dipunahkan.

Demikian koneksi antar materi ini pada modul 3.1 terkait pengamblan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan seorang pemimpin. Mohon saran dan masukan untuk perbaikan penulisan ini. Terimakasih.





0 komentar:

Posting Komentar

Koneksi Antar Materi Modul 3.3

 Koneksi Antar materi Modul 3.3 "Pengelolaan Program Yang Berdampak Positifs Terhadap Murid" Dari modul pembelajaran 3 pelatihan g...