SELAMAT DATANG DI BLOG PENDIDIKAN MEDIA BERBAGI ASIK BERBAGI UNTUK SEMUA DI KECAMATAN BANDAR PETALANGAN KABUPATEN PELALAWAN PROVINSI RIAU

Kuliah Umum PembaTIK Level 4 Tahun 2022

Kuliah Umum PembaTIK Level 4 Tahun 2022 mengangkat Tema Berkolaborasi dan Bertransformasi Menumbuhkan Ekosistem Digital Menuju Merdeka Belajar. Melalui Pembelajaran Berbasis TIK ini diharapkan para pendidik mampu mengembangkan potensi dan mengimplementasikannya.

Dukungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pelalawan

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pelalawan H. Abu Bakar FE, S.Sos., M.Ap memberikan dukungan penuh terhadap Program Pembelajaran Berbasis TIK (PembaTIK) yang diluncurkan oleh Pusat data dan Informasi (Pusdatin).

.

Sosialisasi Praktik Baik Pemanfaatan Rumah Belajar di SD Negeri 002 Lubuk Keranji

Dukungan dan antusias para guru dalam mengikuti sosialisasi praktik baik pembelajaran SOLE terintegrasi kearifan lokal pariwisata Ombak Bono dengan memanfaatkan fitur Sumber Belajar pada Portal Rumah Belajar.

Webinar KOLAK JAMBU (Kolaborasi Kalimantan Jambi dan Riau)

Kolaborasi Sahabat Rumah Belajar Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi dan Riau dalam Berbagi Praktik Baik Pembelajaran Berbasis TIK Terintegrasi Platform Rumah Belajar dan Platform Merdeka Mengajar

Tugas Akhir Vlog PembaTIK Level 4 Tahun 2022

Pembelajaran Kooperatif Melalui Pemanfaatan Sumber Belajar pada Portal Rumah Belajar Materi Koordinat Kartesius Tingkat Sekolah Dasar Terintegrasi Kearifan Lokal Pariwisata Provinsi Riau

Rabu, 21 Juni 2023

Koneksi Antar Materi Modul 3.3

 Koneksi Antar materi Modul 3.3
"Pengelolaan Program Yang Berdampak Positifs Terhadap Murid"



Dari modul pembelajaran 3 pelatihan guru penggerak, penulis mencatat beberapa hal yang menarik, seperti pergeseran paradigma dalam pengambilan keputusan dari yang selama ini dilakukan dengan pendekatan berbasis masalah (berbasis defisit) menjadi pendekatan berbasis aset sekarang. aku telah belajar Sebelum saya mengikuti pelatihan guru penggerak, sudah menjadi kebiasaan kami untuk selalu mengutamakan hasil evaluasi saat mengambil keputusan, dan masalah utama dalam evaluasi adalah kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, pendekatan berbasis masalah digunakan untuk menentukan tindakan di masa depan. Namun, setelah mempelajari Modul 3 ini, masalahnya tidak lagi menjadi fokus pengambilan keputusan. Karena setiap masalah memiliki sisi positif. Karena di balik masalah itu ada kelebihan yang bisa dimanfaatkan sebagai aset. Dan Anda harus bisa melihat hal-hal secara positif. Dan ketika Anda mempraktikkannya, karena kami selalu berpikir positif tentang minat kami, kekuatan yang diperlukan untuk merancang keputusan dan program yang berdampak positif bagi siswa kami sangatlah sederhana.

Kalangan pendidikan perlu optimis terhadap pengelolaan sumber daya dan aset sebagai kekuatan/potensi sekolah. Masalah dan kekurangan sekolah tidak lagi menjadi penghambat kemajuan pendidikan dan perwujudan visi, misi, dan tujuan sekolah ramah siswa. Namun titik fokus permasalahannya adalah kebiasaan yang sudah mapan, yang tidak mudah diubah, sehingga membutuhkan pemahaman yang matang tentang proses pembelajaran, kerjasama dan civitas akademika sekolah. Perubahan positif dapat dengan mudah dicapai jika sikap positif tertanam dalam diri sivitas akademika sekolah. Dan program yang berdampak positif bagi siswa mudah diterapkan.

Dan ketika memutuskan semua hal yang berpihak pada siswa, kita harus menerapkan prinsip pengambilan keputusan dan mengadopsi sembilan langkah ujian. Semoga keputusan bijak dibuat demi siswa. Selain itu, ketika merancang program sekolah yang berdampak pada siswa secara dewasa, model BAGJA dari pertanyaan syukur (mengajukan pertanyaan kunci, mengambil pelajaran, menjelajahi mimpi, menjelaskan rencana, mengelola pelaksanaan) penting. ) untuk menerapkan manajemen perubahan, dan manajemen risiko dan keberlanjutan program memerlukan penerapan MELR (monitoring, evaluasi, pembelajaran dan pelaporan). Dengan demikian, program ini diharapkan dapat berjalan secara efektif dan efisien.

Pemetaan aset dan sumber daya di sekolah (baik sumber data fisik maupun non fisik) juga penting untuk merampingkan pelaksanaan program yang berdampak pada siswa. Setelah pemetaan selesai, langkah selanjutnya adalah mengaktifkan pembelajaran mandiri dan memanfaatkan potensi sekolah sejalan dengan tujuan menciptakan profil siswa Pancasila dan budaya positif di sekolah.

Modul 3.3 adalah modul terakhir dari rangkaian modul untuk melatih instruktur operasional di masa mendatang. Modul 3.3 mengundang Anda untuk meninjau kembali kegiatan dan rutinitas sehari-hari yang Anda lakukan untuk memenuhi tanggung jawab dan peran Anda sebagai seorang guru.

Modul 1.1 membahas filosofi Ki Hajar Dewantara bahwa guru memiliki peran strategis dalam menyalurkan segala fitrah pada anak agar mereka bahagia dan tenteram sebagai individu maupun sebagai masyarakat. Dalam mengelola program sekolah yang berdampak pada siswa, siswa harus dilibatkan dan perhatian harus diberikan untuk mengembangkan potensi atau karakter siswa. Modul ini juga berbicara tentang fakta bahwa siswa adalah individu yang unik dan utuh, sehingga guru harus dapat membimbing siswa sesuai dengan kodratnya. Memahami sifat siswa memudahkan kita merancang program yang berdampak positif bagi siswa.

Modul 1.2 membahas tentang nilai dan peran instruktur mengemudi. Nilai-nilai instruktur mengemudi adalah mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan mendukung siswa. Nilai dan peran seorang penyuluh tak lepas dari cita-cita luhur mewujudkan profil siswa pancasila dan belajar mandiri. Dalam perannya, guru tidak cukup hanya membimbing pembelajaran di kelas, tetapi juga memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin dalam mengelola program sekolah yang memajukan siswa.

Modul 1.3, Merencanakan dan mengelola program yang mempengaruhi siswa, diterapkan dengan inkuiri terakreditasi BAGJA (Ajukan pertanyaan kunci, Ambil pelajaran, Belajar dari mimpi, Gambarkan rencana, Atur implementasi) dengan terlebih dahulu memetakan aset atau sumber daya sekolah dan mengembangkan aset atau potensi yang dimiliki . dapat dikembangkan untuk merancang program sekolah yang mempengaruhi siswa. Survei BAGJA rewards memungkinkan kami dengan mudah merancang program yang berdampak positif bagi siswa karena kami melibatkan semua pihak dan melihat semua aset yang tersedia.

Modul 1.4 membahas tentang budaya positif berupa lingkungan yang mendukung pengembangan potensi, minat, dan profil belajar siswa, terutama kekuatan alamiah anak. Sebagai petani, guru harus mampu mengoptimalkan sumber daya lingkungan yang positif dan mengembangkan budaya yang positif agar anak dapat tumbuh sesuai dengan sifat dan karakter zaman serta program pendukung yang mempengaruhi siswa. Dan dengan pembiasaan budaya yang positif, maka terciptalah profil mahasiswa pancasila.

Modul 2.1 dari modul ini berkaitan dengan pembelajaran yang dibedakan. seorang guru dapat menggunakan pembelajaran berdiferensiasi untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada siswa. Pembelajaran yang berdiferensiasi ini merupakan solusi dari perbedaan karakteristik dan kecerdasan siswa. Sebelum merencanakan pembelajaran yang berdiferensiasi, guru harus memetakan kebutuhan belajar, minat, dan profil belajar siswa. Tujuannya adalah untuk mengetahui kelebihan atau kelebihan siswa. Dengan menerapkan pembelajaran yang berbeda, kami memberikan siswa ruang kenyamanan dan kebahagiaan saat belajar, yang membuat guru nyaman dan senang saat mengajar. Beginilah cara belajar mandiri lahir.

Modul 2.2 Dalam modul ini guru dilatih dan disempurnakan agar mampu mengembangkan kompetensi sosial dan emosional siswa. Dengan Aplikasi Pembelajaran KSE, kami mengembalikan kesadaran diri penuh pada siswa sehingga mereka tenang, fokus, berempati, termotivasi dan bertanggung jawab. Teknik mindfulness merupakan strategi untuk mengembangkan lima keterampilan sosial-emosional berdasarkan program dukungan siswa yang menciptakan pembelajaran mandiri dan budaya positif di sekolah.

Modul 2.3 membahas praktik bimbingan, yaitu teknik atau strategi guru untuk membimbing anak dan menggali potensinya. Pembinaan juga memberikan kebebasan kepada anak untuk mengembangkan dan mengeksplorasi proses berpikir. Ketika mengelola program yang mempengaruhi siswa, pembinaan dapat digunakan sebagai strategi untuk mengembangkan sumber daya siswa, mengembangkan kepemimpinan siswa, menggali peluang bagi siswa untuk mencapai tujuan pendidikan, yaitu. keamanan dan kebahagiaan anak setinggi mungkin.

Modul 3.1 berkaitan dengan pengambilan keputusan berbasis nilai sebagai seorang manajer. Sebagai seorang guru, seorang guru harus mampu mengambil keputusan yang bijak, yaitu keputusan yang bermanfaat bagi siswa. Basis keputusan, prinsip dan paradigma atau nilai harus konsisten, terutama ketika berhadapan dengan dilema etika atau persuasi moral. Dan dalam pengambilan keputusan harus memperhatikan paradigma, prinsip dan 9 langkah pengujian, agar keputusan yang kita ambil tepat, cepat dan sesuai dengan kepentingan siswa.

Modul 3.2 membahas pengelolaan sumber daya, bahwa guru sebagai pemimpin pembelajaran atau pengelola program sekolah harus mampu memetakan dan mengidentifikasi aset sekolah, baik fisik maupun non fisik. Pendekatan berbasis aset dapat lebih mengoptimalkan potensi sekolah sebagai komunitas belajar dibandingkan dengan pendekatan berbasis masalah. Sisi positif sekolah harus dilihat dari paradigma berpikirnya. Dengan memfokuskan aktivitas Anda, Anda dapat merencanakan dengan baik untuk mengelola program yang berdampak pada siswa.

Modul 3.3 berkaitan dengan manajemen program yang mempengaruhi siswa. Dengan memahami dan menerapkan semua modul pelatihan mobilisasi guru, maka terciptalah program sekolah yang berdampak positif bagi siswa.

Demikian koneksi antar materi pada modul 3.3 untuk dapat dijadikan referensi bagi para pembaca dan mohon masukan serta kritikan untuk kemajuan penulisan ini terimakasih.





Sabtu, 06 Mei 2023

Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan



Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

Pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap memiliki pengaruh terhadap bagaimana pengambilan sebuah keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran yang diambil.

Pratap Triloka dirintis oleh Ki Hajar Dewantara yang terkenal dengan semboyan ing ngarso sungtuladha, ing madya mangun prakarsa, Tut wuri Handyaani artinya memimpin dengan keteladanan,

Senin, 20 Februari 2023

Koneksi Antra materi Modul 2.1

 


Pembelajaran Berdiferensiasi

Definisi Pembelajaran Berdiferensiasi

Menurut Tomlinson (2001: 45), Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar murid. Guru memfasilitasi murid sesuai dengan kebutuhannya, karena setiap murid mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa diberi perlakuan yang sama.

Pada dasarnya, pembelajaran berdiferensiasi memungkinkan setiap guru untuk bertemu dan berinteraksi dengan siswa pada tingkat yang sebanding dengan tingkat pengetahuan mereka untuk kemudian menyiapkan preferensi belajar mereka.

Untuk dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, hal yang harus dilakukan oleh guru antara lain: Melakukan pemetaan kebutuhan belajar berdasarkan tiga aspek, yaitu: kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar murid (bisa dilakukan melalui wawancara, observasi, atau survey menggunakan angket, dll).

Strategi Pembelajaran berdiferensiasi ada 3 yaitu: diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk.

1. Direfensiasi konten

  Konten adalah apa yang kita ajarkan kepada murid. Konten dapat dibedakan sebagai tanggapan terhadapa kesiapan, minat, dan profil belajar murid maupun kombinasi dari ketiganya.

Guru perlu menyediakan bahan dan alat sesuai dengan kebutuhan belajar murid.


2. Diferensiasi proses

  Proses mengacu pada bagaimana murid akan memahami atau memaknai apa yang dipelajari.

Diferensiasi proses dapat dilakukan dengan cara:

a.  menggunakan kegiatan berjenjang

b.  meyediakan pertanyaan pemandu atau tantangan yang perlu diselesaikan di sudut-sudut minat,

c.  membuat agenda individual untuk murid (daftar tugas, memvariasikan lama waktu yang murid dapat ambil untuk menyelesaikan tugas,

d.  mengembangkan kegiatan bervariasi 


3.  Diferensiasi produk

Produk adalah hasil pekerjaan atau unjuk kerja yang harus ditunjukkan murid kepada kita (karangan, pidato, rekaman, doagram) atau sesuatu yang ada wujudnya.

Produk yang diberikan meliputi 2 hal:

a.  memberikan tantangan dan keragaman atau variasi,

b. memberikan murid pilihan bagaimana mereka dapat mengekspresikan pembelajaran yang diinginkan.


Indikator keberhasilan suatu pembelajaran berdiferensiasi adalah siswa merasa nyaman dalam belajar, adanya peningkatan keterampilan baik segi hard skill atau softskill, dan adanya kesuksesan belajar dari seorang murid yaitu murid mampu merefleksikan diri kemampuannya dimulai dari titik awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran.

Ciri-ciri atau karakteristik pembelajaran berdiferensiasi antara lain; lingkungan belajar mengundang murid untuk belajar, kurikulum memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, terdapat penilaian berkelanjutan, guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar murid, dan manajemen kelas efektif.

Contoh kelas yang menerapkan pembelajaran berdiferensiasi adalah ketika proses pembelajaran guru menggunakan beragam cara agar murid dapat mengeksploitasi isi kurikulum, guru juga memberikan beragam kegiatan yang masuk akal sehingga murid dapat mengerti dan memiliki informasi atau ide, serta guru memberikan beragam pilihan di mana murid dapat mendemonstrasikan apa yang mereka pelajari. Contoh kelas yang belum menerapkan pembelajaran berdiferensiasi adalah guru lebih memaksakan kehendaknya sendiri. Guru tidak memahami minat, dan keinginan murid. Kebutuhan belajar murid tidak semuanya terenuhi karena ketika proses pembelajaran menggunakan satu cara yang menurut guru sudah baik, guru tidak memberikan beragam kegiatan dan beragam pilihan.


Berikut contoh RPP Berdiferensiasi pada kelas 4 SD Negeri 002 Lubuk Keranji Kecamatan Bandar Petalangan Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau.


Pembelajaran Berdiferensiasi ini merupakan salah satu dari filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara bahwa setiap murid memiliki keunikan masing-masing dan guru dituntut untuk mampu menuntun dan memberikan apa yang menjadi kebutuhan setiap murid untuk dapat mencapai atau mencari jati diri sehingga mampu menjadi manusia seutuhnya berdasarkan kodrat alam dan kodrat zaman.

Demikian yang dapat saya sampaikan mohon kritik dan saran untuk tugas kedepan lebih baik lagi. Terimakasih. 

Salam dan Bahagia.

Anang Sutrisno

Koneksi Antar Materi Modul 3.3

 Koneksi Antar materi Modul 3.3 "Pengelolaan Program Yang Berdampak Positifs Terhadap Murid" Dari modul pembelajaran 3 pelatihan g...